sms power ranger

Teman sejati selalu memikirkan sahabatnya. seperti Power ranger yg selalu kompak


    Perang Bharatayuda

    Share
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:16

    Hari pertama Bharatayuda


    Gugurnya Utara, Wratsangka dari pihak Pandawa dan Rukmarata dari pihak Kurawa



    Utara


    Dan ketika pagi merekah, berangkatlah dengan suara gemuruh laskar besar dari Negara Wirata. Merah menyala busana barisan terdepan bagaikan semburat sinar
    matahari fajar yang membias mega dari puncak gunung gemunung ketika hendak menerangi jagat.

    Susul menyusul warna warni barisan yang lain bergerak bersama, yang berwarna kuning kumpul sesama kuning terlihat seperti sekumpulan burung podang yang menguasai pucuk ranting-ranting pohon besar. Barisan yang berwarna putih berkumpul sesama putih, sehingga kelihatan bagaikan kumpulan burung kuntul menyebar memenuhi rawa
    rawa. Demikian juga barisan dengan seragam berwarna hijau, biru, hitam, ungu dan sebagainya terkumpul sesamanya.

    Terlihat dari kejauhan, bebarisan prajurit dengan seragam berwarna warni elok bagaikan kelompok kembang setaman.
    Suara gemerincing kendali dan kerepyak ladam kuda membentur bebatuan jalan, bercampur dengan irama tidak beraturan tangkai tombak yang saling beradu menambah hingar bingarnya suara barisan. Kemeriahan barisan ditingkah dengan suara tetabuhan tambur, suling, kendang dan bende serta kelebatnya bendera bersimbol warna warni, bagai hiasan pesta, indah dipandang mata. Debu
    akhir kemarau membubung tinggi dibelakang barisan menambah dramatis dalam pandangan siapapun yang melihat.

    Diatas awan para dewa, dewi, hapsara, hapsari menyebar bunga mewangi, memuji, hendaknya barisan Pandawa dan sekutunya akan unggul dalam perang.

    Pada barisan terdepan adalah laskar setia dari Jodipati berbendera hitam dengan gambar gajah. Terlihat Sang Werkudara yang selamanya tidak pernah berkendara, tetap dengan jalan kaki menggenggam gada super besar ditangannya. Dibelakangnya Patih Gagakbongkol mengiring langkah gustinya dengan tegap.
    Berikutnya nampak Arjuna dengan kereta kencananya yang berhias sesotya gemerlap, lasykarnya berbendera merah keemasan dengan gambar kera ditengahnya. Disampingnya duduk istrinya, Wara Srikandi, anak Prabu Drupada, seorang wanita berwatak prajurit.

    Susul menyusul dibelakangnya, kembar bungsu Pandawa Nakula dan Sadewa, dengan berbendera ungu bergambar dewa kembar, Batara Aswin-Aswan.

    Pada barisan sekutu, barisan Dwarawati dipimpin Prabu Kresna beserta sang adik ipar Arya Setyaki, disambung barisan dari Wirata dengan pengawak Prabu Matswapati diiring kedua Putranya Utara dan Wiratsangka. Resi Seta, putra Sulung
    baginda Matswapati yang sedang dalam semedi di Selaperwata atau Sukarini-pun segera disusul utusan untuk memintanya turun gunung, diberi warta bahwa Baratayuda segera terjadi.

    Dibelakangnya, lasykar Pancalareja/ Pancalaradya prabu Drupada didampingi Pangeran Pati Arya Drestajumna, atau Trustajumena. Dibelakangnya kembali menyusul raja raja sekutu yang lain yang mengharap kemukten dengan ikut serta dalam perang suci ini. Tak ketinggalan barisan yang dipimpin anak-anak muda Pandawa, Gatutkaca dengan pasukan raksasa dan manusia biasa dari Pringgandani, kemudian putra sang Arjuna,
    Abimanyu, putra sang Punta, Pancawala dan saudara muda yang lain.

    Sampailah barisan di tepi lapangan yang maha luas, tegal Kurukasetra. Barisan yang mengumpul menjadi satu bagaikan pasangnya air samudra yang meleber ke daratan. Beberapa pesanggrahan dibangun untuk menjadi base camp dibeberapa tepi
    strategis. Prabu Puntadewa beserta para sesepuh menamai pesanggrahan utama sebagai Pesanggrahan Randuwatangan. Dengan penguat batang kayu pohon randu, dipadu patut dengan segala hiasan hingga
    menyerupai istana.

    Pesanggrahan untuk para senapati dengan nama pasanggrahan Randugumbala, pesanggrahan dengan bahan kayu semak randu, sedang pesanggrahan untuk prajurit garda depan dengan nama Glagahtinunu, pasanggrahan dengan lahan rumput glagah yang dibakar terlebih dahulu.

    ******

    Begitupun juga di pihak Kurawa, mereka membuat pesanggrahan yang dihias bagaikan istana yang sesungguhnya, dinamakan Pesanggrahan Bulupitu, pesanggrahan utama dimana para calon senapati dihimpun dalam satu naungan, sementara para prajurit melingkup disekitar pesanggrahan.

    Ditempat lain Adipati Karna menempati pesanggrahan Ngurnting, Prabu Salya mesanggrah di Karangpandan.

    ******

    Persiapan di pihak Pandawa dimatangkan, Dewi Kunti sudah datang diantar kembali iparnya Arya Yamawidura beserta putra sang Yamawidura, Arya Sanjaya ke Randuwatangan.

    “Kanjeng Ibu, putra putra paduka mengharap restumu untuk mengemban tugas suci ini”.
    Puntadewa memulai pokok pembicaraan setelah haru biru berlalu, menyesali mengapa perang harus terjadi. Tetapi pada dasarnya mereka adalah kesatria waskita, yang dianugrahi hati penuh kebijaksanaan.

    Kunti dengan penuh wibawa menguatkan batin anak anaknya,“Anak anakku, watak satria adalah mempunyai hati yang teguh.
    Tidak pernah merasa ragu dalam bertindak. Bila sudah dikatakan dahulu bahwa negara akan dikembalikan setelah masa perjanjian lewat, maka janji itu adalah hutang yang harus dibayar, dan kalian pantas untuk mendapatkan apa yang
    dijanjikan”.


    “Sedangkan kamu semua adalah kesatria yang diidamkan oleh ayahmu dahulu, semua anak Pandu adalah anak anak yang teguh memegang janji. Sekarang ini adalah saat yang tepat untuk kalian semua berbakti kepada mendiang ayahmu, menjaga kebanggaan akan sikap yang ditanamkan sejak kamu masih kecil”

    Sementara kebulatan tekad terlahirkan, Yamawidura , paman para Pandawa dan Kurawa, tidak tega ikut dalam perang, dalam pikirannya masih berkecamuk rasa sesal, kedua pihak adalah bagian dari darah
    dagingnya. Dan minta pamitlah Arya Yamawidura kembali ke Panggombakan, kadipaten dalam lingkungan kerajaan Astina.

    ******

    Hadir didalamnya Prabu Salya dari Mandaraka sudah diundang datang.
    Demikian juga Resi Bisma dan Begawan Durna. "Para sesepuh semua dan saudaraku, tidak sabar rasaku ini hendak mulai menumpas Pandawa yang tidak tahu
    tata”.
    Duryudana mengambil inisiatif
    awal dengan menunjuk seorang senapati.

    “Eyang Bisma, dengan segala hormat,
    kami para Kurawa meminta kanjeng Eyang menjadi senapati pertama”.

    Strategi Duryudana menunjuk. Dalam
    pikirnya, Baratayuda akan dibuat sesingkat mungkin.

    Ia berkesimpulan, siapapun dari pihak Pandawa tidak akan mampu menanggulangi krida Sang Bisma Jahnawisuta, satria dengan nama muda Dewabrata, sarat dengan ilmu kaprawiran dilambari kesaktian hasil dari mesu raga olah batin pada sepinya pertapan Talkanda
    menjadikannya seolah tanpa tanding.

    Sebenarnyalah Resi Bisma ada dalam
    situasi batin yang bertentangan dengan pihak yang ia bela. Dalam hatinya, kesatria Pandawa-lah yang terkasih ini tersimpan dalam relungnya.

    Tetapi intuisi seorang Pandita waskita mengatakan, “inilah saatnya bagiku untuk mengunduh segala pakrti yang aku pernah perbuat dimasa lalu”.

    Dalam benaknya terbayang, ketika ia
    pernah muda dan salah langkah, membunuh putri Kasi bernama Dewi
    Amba tanpa sengaja, untuk menghindari batalnya sumpah kepada sang ibu sambung, dewi Durgandini, bahwa ia akan menjalani hidup sebagai brahmacarya, seorang yang tak kan pernah menyentuh
    perempuan.

    Terngiang dalam telinganya akan ajakan sang Dewi Amba ketika menjelang ajalnya menjemput, bahwa ia akan menggandeng tangan sang Dewabrata saat ia akan bertarung dengan prajurit wanita entah kapan. Dan dalam pengamatannya prajurit
    wanita yang pantas menjadi sarana kemuliaan adalah prajurit Pandawa. Kelompok satria utama yang pantas mengantarnya kembali ke alam tepet suci.

    Satu hal lagi, Bisma akan kembali bertarung dengan Seta, seorang putra sulung raja Wirata yang sama sama gemar bertapa. Ketika itu mereka sepakat akan kembali bertarung mengadu kesaktian akibat dipisahkan Hyang Naradda, karena pertempuran mereka oleh suatu sebab
    menimbulkan panas hingga sampai ke Kahyangan Jonggring Salaka. Dan momen ini tak dapat ia tinggalkan melihat Wirata ada di pihak Pandawa.

    Catatan:
    Terdapat versi lain, yang terbunuh oleh Raden Dewabrata ketika itu adalah Dewi Ambika. Namun versi pada cerita ini adalah ; Ketika itu Dewi Amba, Ambika dan Rambalika menjadi boyongan ke Astina ketika sayembara perang yang diselenggarakan Raja Kasi telah dimenangkan oleh Dewabrata.

    Ketika itu kedua adiknya Citragada
    dan Wicitrawirya, diserahi putri penengah dan terakhir sehingga Dewi Amba tetap mengharap untuk dinikahi Dewabrata. Namun sumpah Dewabrata kepada ibu tiri, Dewi Durgandini, yang khawatir tahta
    akan jatuh kepada Dewabrata atau anak turunnya, menyebabkan Dewabrata bersumpah untuk tetap melajang seumur hidupnya.



    Rukmarata


    Demikianlah, Senapati utama telah ditunjuk, dengan senapati pendamping Prabu Salya dan Pandita Durna. Formasi serangan mematikan telah disusun sesuai dengan ambisi sang Prabu Duryudana yang tidak mau mengulur waktu segera
    mengeluarkan jurus maut berisi orang orang sakti andalan.

    Kata sepakat telah bulat, strategi telah disusun, pilihan jatuh pada gelar Wukir Jaladri, gunung karang ditepi laut dengan deburan ombaknya. Kokohnya pertahan karang laut dengan gerakan ombak laut yang dahsyat siap melumat barisan prajurit Pandawa. Gemuruh langkah cepat prajurit yang bergerak maju bagaikan membelah langit. Jumlah besar prajurit dari ujung hingga ke ujung lainnya hampir tak kelihatan, ditambahkan dengan pandangan yang tertutup debu yang mengepul. Kembali bebunyian penyemangat ditalu, tambur, suling, kendang, gong beri ditabuh membahana
    memekakkan telinga.

    Randuwatangan. Segala kemungkinan
    sedang dirembug, Baginda Matswapati memberikan usul, “ Anak anak dan cucu cucu, negaraku, bahkan jiwaku beserta anak- anakku sudah aku pertaruhkan untuk
    kejayaan Pandawa. Sumpahku telah terucap, ketika cucu Pandawa sudah menyelamatkan keselamatan keluarga
    dan negara Wirata dari musuh dari dalam, Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala, dan musuh dari luar Para Kurawa dan sraya prajurit dari Trikarta Prabu Susarman”.
    Demikian Matswapati membuka usulannya.

    “Dari itu, perkenankan sebagai senapati, angkatlah anak anakku. Ketiganya sekalian aku serahkan segala strategi gelar peperangan kepadamu sekalian”.

    “Dari itu, perkenankan sebagai senapati, angkatlah anak anakku. Ketiganya sekalian aku serahkan segala strategi gelar peperangan kepadamu sekalian”.

    “Sebagai pengayom dan pengarah laku, segala tindak yang akan dilakukan untuk aku serahkan kepada Kanda Prabu Kresna” Puntadewa meminta Kresna untuk mengambil alih segala kebijakan dan strategi.

    “Baiklah Eyang dan adikku para pandawa, aku terima usul eyang Baginda Matswapati. Uuntuk maju pertama kali sebagai senapati adalah eyang Seta sebagai senapati pertama dan utama, sedangkan sebagai pendamping adalah eyang Utara dan eyang Wirasangka”. Kresna
    memberikan ketetapan.

    Catatan:
    Pada versi lain, majunya Resi Seta ke palagan terjadi ketika Utara dan Wratsangka telah tewas dan terpancing kemarahan Resi Seta saat jugar dari tapa tidur.


    Gegap gempita penyambutan para prajurit. Siapa yang tak tahu Resi Seta? Putra pertama Baginda Matswapati, guru sang Gatutkaca yang memiliki ajian Narantaka. Ajian yang bisa disejajarkan dengan ajian Lebur Seketi kepunyaan ayah
    Duryudana, Adipati Drestarastra. Bahkan bila Lebur seketi dapat meleburkan benda apapun yang diraba, maka Narantaka lebih dari itu, perbawa sekelilingnyapun menjadi panas terbakar bila aji ini dirapal.

    Kesaktian Resi Seta bila dibandingkan, jauh diatas dari kesaktian adik adiknya, Utara, apalagi Wratsangka yang agak penakut.

    Walaupun para Pendawa menyebut ketiga putra Wirata sebagai eyang, namun itu hanya sebatas sebutan menurut garis keturunan. Karena sesungguhnya Utara dan Wratsangka adalah orang orang yang masih sebaya dengan para Pandawa, bahkan saking panjangnya umur Baginda
    Matswapati, putra pertama Resi Seta adalah sebaya Bisma sedangkan putri
    terakhir, Dewi Utari, malah sebaya dengan anak anak Pandawa.

    Ketika strategi perang belum dibicarakan, Wara Srikandi yang bertugas mengamati garda depan di Glagahtinunu dengan tergesa menghadap sidang. Lapornya “Semua yang hadir, sekarang para Kurawa sudah mendatangi palagan dengan
    menggelar strategi perang Wukir Jaladri. Kami di garda depan sudah sempat berhadapan dengan barisan depan mereka, tetapi kami sendiri dan Setyaki serta kakang Udawa berkesimpulan untuk kembali terlebih dulu sebagai wujud kita semua menggelar peperangan ini bukanlah
    perang ampyak, melainkan perang dengan memakai aturan“.


    Braja Tiksna Lungid. Gelar serupa seberkas bola api meteor dirancang Sri Kresna untuk menghadapi gelar lawan, meteor panas dan tajam yang mampu meremukkan karang laut sekalipun. Gelar frontal yang dirancang langsung berhadapan antar kedua senapati utama, untuk menghindari kelemahan para
    pendamping, Utara dan Wratsangka. Namun sewaktu waktu gelar dapat dirubah menjadi Garuda Nglayang dengan kedua sayap diisi senopati pendamping, dengan back up Werkudara terhadap Arya Utara dan Arjuna terhadap Arya Wratsangka disisi kiri dan kanan.

    Diceritakan, kedua pihak barisan telah berhadapan. Gemetar sang Arjuna melihat suasana yang tergelar didepan mata. Keraguan hati Arjuna disikapi Sri Kresna. Didekatinya Arjuna yang berdiri termangu.

    “Kanda Kresna, apalah artinya peperangan ini. Perang yang terjadi sesama saudara. Mereka yang saling berhadapan adalah kakaknya, adiknya, keponakan, paman dan seterusnya. Bahkan guru dan murid juga terlibat” demikian sang Arjuna tersentuh rasa kemanusiaannya.

    Lanjutnya “Apakah masih ada gunanya saya meneruskan suasana seperti ini, apakah tidak sebaiknya apa yang terlihat didepan mata disudahi saja?”.

    “Iparku, bukankan sudah menjadi ketetapan dalam sidang bahwa inti dari peperangan ini bukan lagi berkisar pada kembalinya Astina sebagai hal yang utama, walaupun demikianlah kenyataannya” Kresna mulai mencoba menghilangkan keraguan yang kembali meliputi batin Arjuna”.

    “Tetapi darma dari satria yang tersandang dalam jiwa adalah menegakkan aturan yang sudah ditetapkan. Dan lagi, perang ini bukan sekedar perang memperrebutkan negara, tetapi dibalik itu, perang ini adalah sarana memetik hasil pakarti para manusia didalamnya dan juga alat untuk meluwar janji yang telah terucap, perang idaman para brahmana,
    jangka para dewa. . .”

    banyak banyak nasihat yang dikatakan Kresna untuk menguatkan hati Arjuna.

    “Tetapi apakah aku dapat tega melepas anak panah, bila dihadapanku adalah orang yang aku agungkan?” tanya Arjuna.

    “Dalam perang bukanlah tempat untuk murid membalas jasa kepada guru, bukan membalas kebaikan antara yang memberi dan menerima kebaikan, tetapi dalam peperangan itu adalah berhadapannya kebaikan dan angkara murka. Lagi pula banyak satria yang akan membantu
    menghadapi orang yang kau agungkan, jadi tidak perlulah kamu sendiri yang menghadapinya. Tapi bila memang harus bertanding juga, sembahlah terlebih dulu para junjunganmu sebelum kamu bertempur, niscaya beliaupun akan menghormati kamu, Arjuna”
    Kresna
    menjelaskan.

    Demikianlah, maka perang campuh
    berlangsung sengit. Suara dentang pedang beradu memekakkan telinga. Gesekannya memancarkan bunga api bagai keredap kilat, mengerikan. Saling bunuh terjadi, siapa yang terlena akan terkena senjata lawan. Teriakan kesakitan para prajurit dan
    hewan tunggangan yang terkena senjata membuat giris prajurit yang berhati lemah. Dilain pihak, prajurit yang haus darah terus merangsek penuh nafsu membunuh. Sementara di angkasa hujan anak panah bagai ditumpahkan dari langit.

    Pertempuran antara kedua senapati utama Seta dan Bisma juga berlangsung seru, keduanya pernah beradu kesaktian kala itu, kembali bertempur dengan peningkatan ilmu kanuragan yang tak pernah mereka tinggalkan pengasahannya, sehingga tingkat kemampuan bertempur
    mereka berdua semakin tinggi. Arena
    pertarungan seakan menjadi kepunyaan mereka, karena lingkaran hawa panas keluar dari lingkaran peperangan, sebab tak ada prajurit yang berani mendekati arena pertarungan antar keduanya.

    Ditempat lain, pertempuran senapati pendamping juga berlangsung seru. Senapati Kurawa, walaupun keduanya sudah tua, namun mereka dengan
    kesaktiannya yang mapan dan matang
    mampu mengatasi kekuatan dua anak
    muda Wirata. Tidak heran, karena semasa muda keduanya adalah satria pilih tanding. Bahkan Durna dengan kekurangan fisik, walau hanya bertangan tunggal, tetapi posisinya selalu diatas angin. Sehingga terus merangsek dan mendesak Wratsangka.

    Ketika matahari sudah tergelincir kearah barat, Durna menyudahi pertempuran. Wratsangka terkena pusaka Cundamanik, gugur sebagai tawur perang.


    Wratsangka

    “Wratsangka tewas . . . , Wratsangka tewas . . . . .!!” teriakan para prajurit Kurawa memberikan kipasan angin segar kepada kawan kawannya.

    Motivasi prajurit Kurawa yang sudah
    mengendor kelelahan, berkobar kembali ketika mendengar tewasnya Wratsangka.

    Dilain pihak, gugurnya Wratsangka membuat kedua kakaknya menjadi
    makin liwung, beringas. Seta dengan ajiannya, Narantaka, kobaran api dari kedua tapak tangannya meluluh lantaklah prajurit kecil yang menghalanginya. Hewan tunggangan para senapati seperti kuda, gajah bahkan kereta perang banyak remuk
    redam dan gosong terkena amuk Resi Seta. Demikian juga kroda sang Utara, yang tak lama kemudian mampu merobohkan pertahanan Prabu Salya. Kereta yang ditumpanginya Salya terkena sabetan gada Utara, pecah berantakan. Prabu Salya selamat namun si kusir, patih Mandaraka
    Tuhayata, ikut tewas tertebas.

    Putra Salya, Arya Rukmarata yang mencoba melidungi ayahnya akhirnya tewas terkena panah Resi Seta yang sementara menghindari peperangan dengan Bisma ketika mendengar adiknya terkasih tewas ditangan Durna.

    Dendam membara menguasai hati Sang Seta. Dicarinya Durna yang segera dilindungi rapat oleh para pengikut setianya. Bisma tak tinggal diam, dibayanginya Seta hingga tidak dengan leluasa melampiaskan dendamnya kepada Durna.

    Sementara itu, Prabu Salya sangat terpukul. Anak lelaki tampan kekasih hatinya tewas melindunginya. Tewas dengan dada tertembus panah.
    “Jagad dewa batara..!, anakku …., kau yang aku harapkan menjadi penggantiku kelak, ternyata malah mendahului aku. Seperti apa derasnya air mata yang tertumpah, bila ibumu Setyawati mendengar kabar tentang kematianmu ngger…..“. Bagai kehilangan seluruh
    kekuatannya, Prabu Salya membelai
    jasad anak tercintanya. Tiba tiba Prabu Salya berdiri. Disapunya pandangan dengan nanar, mencari dimana Utara berada. Kemarahannya menggelegak dengan hebatnya. Sementara Utara yang
    sedang ganti berhadapan dengan Kartamarma dan Durjaya segera diterjang.

    “Berikan lawanmu Kartamarma, Durjaya, orang ini pantas menjadi korbanku hari ini!!!”

    Kembali pertempuran yang terputus
    berlangsung. Kemarahannya memaksa
    mengeluarkan raksasa bajang dari dalam tubuhnya. Tertebas gada sang Utara, raksasa bajang bukannya mati, malah membelah diri menjadi dua. Dua dua tertebas, raksasa bajang bertambah banyak dengan jumlah ganda. Itulah ajian Candabirawa. Aji pemberian mertuanya, Resi Bagaspati.

    Kerepotan Utara melayani lawan yang
    semakin banyak. Terlena sang Utara, panah Prabu Salya, Kyai Candrapati yang dari tadi tertuju kepadanya segera dilepaskan, mengena tubuh Utara, gugur pula ia sebagai kusuma bangsa dalam peperangan pada ujung hari.

    Senja telah datang di hari pertama itu. Dan hari pertama pertempuran telah ditetapkan berakhir ketika sangkakala ditiupkan. Bangkai kuda, gajah kendaraan para prajurit terkapar bersama ribuan sekalian prajurit.

    Hari pertama itu mengawali delapan
    belas hari pertempuran yang akan berlangsung penuh hingga selesai, dan empatbelas hari diantaranya berlangsung ketika Bisma madeg senapati.


    Terakhir diubah oleh djoonecok tanggal 1/12/2013, 10:14, total 6 kali diubah
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:37

    Resi Seta Gugur


    Resi Seta

    Malam telah larut. Api pancaka sudah hampir padam. Api suci yang membakar kedua putra Wirata, Arya Utara dan Wratsangka, yang gugur sebagai prajurit gagah berani. Kesunyian malam mulai mencekam, bintang dilangit berkelipan
    menyebar, sebagian berkelompok membuat rasi. Menjadi pedoman bagi
    manusia atas arah mata angin diwaktu malam mati bulan, serta menjadi titi waktu kegiatan manusia sepanjang tahun, yang akan berulang dan terus berulang entah sampai kapan. Angin semilir menyebarkan
    bau harum bunga liar. Lebah malam terbang dengan dengung khasnya mencari bunga dan menghisap sari kembang.

    Para prajurit yang letih dalam perang
    seharian memanfaatkan malam itu sebagai pemulihan tenaga yang esok hari peperangan pasti dilakoninya kembali. Dalam pikiran mereka berkecamuk pertanyaan, apakah besok masih dapat menikmati kembali terbenamnya matahari? Bagi para prajurit pihak Pandawa, kalah menang adalah darma. Kebajikan dalam membela kebenaran akan
    memberi kemukten dialam kelanggengan bila tewas, atau mendapatkan kedua duanya, dialam fana juga dialam baka nanti, bila nyawa masih belum terpisahkan dari raga.

    Malam itu Resi Seta duduk gelisah. Rasa sasar sebelum mampu membalaskan dendam kematian adik adiknya masih terus berkecamuk. Sesal kenapa perang cepat berlalu hingga tak sempat dendam itu terlampiaskan saat itu juga. “Belum lega rasaku sebelum aku dapat membekuk kedua manusia yang telah menyebabkan kematian kedua adikku”. Sayang, aturan perang tidak mengijinkan perang diwaktu malam terus berlangsung.

    Resi Seta terus terjaga, hingga ayam hutan berkokok untuk pertama kali barulah mata terpejam. Didalam mimpinya yang hanya sekejap, terlihat kedua adiknya tersenyum melambaikan tangannya. Mereka sangat bahagia, mengharap, bila saatnya ketiganya akan berkumpul kembali.

    *********

    Hari baru telah menjelang. Kembali hingar bingar membangunkan Resi Seta dari tidur.

    Hari itu gelar perang masih memakai formasi sehari lalu.

    Belum matahari naik sejengkal campuh pertempuran berlangsung kembali. Kali ini Salya dan Durna disimpan agak kebelakang. Sebagai gantinya, Gardapati dan Wersaya ,
    dua raja sekutu Kurawa di masukkan dalam barisan depan sebagai pengganti tombak kembar penggedor pertahanan lawan.

    Dari pihak Randuwatangan, Werkudara
    dan Arjuna menjadi pengganti posisi Utara dan Wratsangka untuk mengimbangi laju serang dua sayap Kurawa.

    Dari jauh hujan panah sudah berlangsung. Seta dengan amukannya mencari biang kematian kedua adiknya. Direntangnya busur dan anak panah ditujukan kepada Salya, sayang luput dan hanya mengenai
    kereta perangnya yang kembali remuk.

    Kartamarma dengan gagah berani menghadang, tetapi bukan tandingan Resi Seta. Kembali nasib baik masih menaungi Kartamarma, hanya kendaraannya yang remuk, sementara Kartamarma selamat.
    Bisma mencoba membantu, dilepas anak panah kearah Seta, terkena di dadanya, tetapi tidak tedas, bahkan anak panah patah berkeping.

    Bukan main marah Resi Seta, kembali ia
    mengamuk semakin liwung. Kali ini Durna sebagai sasaran anak panahnya, namun Duryudana membayangi, yang kemudian terkena anak panah Resi Seta. Walau tidak terluka, Duryudana mundur kesakitan dengan menggandeng Durna menyingkir
    mencari selamat.

    Sebagai Senapati utama dari kedua pihak, Bisma dan Resi Seta kembali bertarung. Saling serang dengan gerakan yang semakin lama makin cepat. Resi Seta yang sebenarnya memiliki kesaktian lebih tinggi dari Bisma tidak bisa lekas menyudahi
    pertempuran. Perhatiannya masih terpecah dengan rasa penasaran
    untuk membela kematian adik adiknya. Dengan sengaja Resi Seta menggeser arena pertandingan mendekati Durna. Namun
    kesempatan itu tidak dapat ditemukannya. Durna sangat dilindungi, demikian juga dengan Salya, keduanya seakan dijauhkan
    dari dendam membara Resi Seta.

    *********

    Hari berganti, pertempuran seakan tak hendak padam. Sudah berjuta prajurit tewas, tak terhitung lagi remuknya kereta perang dan bangkai kuda serta gajah kendaraan para prajurit petinggi. Bau anyir darah dan jasad yang mulai membusuk,
    mengundang burung burung pemakan bangkai terbang berkeliaran diatas arena pertempuran. Pertarungan kedua senapati linuwih hanya dapat dipisahkan oleh
    tenggelamnya matahari.

    ********

    Hingga suatu hari, keseimbangan kekuatan keduanya mulai goyah, kelihatan Resi Seta lebih unggul dari Bisma, secara fisik maupun kesaktian. Mulai merasa diatas angin Resi Seta sesumbar “Hayo Bisma, keluarkan semua kesaktianmu, setidaknya aku akan mundur walaupun setapak”.

    “Jangan merasa jadi lelaki sendirian dimuka bumi ini, lawan aku, hingga tetes darah penghabisan pun aku tak akan menyerah”. Bisma tidak mau kalah menyahut.

    Tetapi apa daya, tenaga Resi Seta yang sedikit lebih muda mampu terus
    mendesak pertahanan Bisma. Merasa terus terdesak, tak terasa posisi Bisma sampai hingga ketepi bengawan Gangga. Terjatuh ia dari tepi jurang bengawan yang kelewat
    luas dan dalam.

    Tertegun Seta dibibir jurang, ditungguinya timbul Bisma ke permukaan air beberapa saat, namun hingga sekian lama jasad Bisma tak kunjung muncul.

    ***********

    Diceritakan, Bisma yang terjerumus kedalam palung bengawan, ternyata tidak tewas. Samar terdengar ditelinganya sapaan seorang perempuan, “Dewabrata, inilah saat yang aku tunggu, kemarilah ngger. . . !”

    Dicarinya suara itu yang ternyata keluar dari mulut seorang wanita cantik dengan dandanan serba putih.

    “Siapakah paduka sang dewi, yang mengerti nama kecil hamba. Pastilah paduka bukan manusia biasa. Malah dugaanku padukalah yang hendak
    menjemput hamba dari alam fana ini….”
    Dewabrata menjawab dengan seribu tanya. Wanita itu menggeleng “ Bukan . . . , akulah Gangga ibumu”

    “Benarkah itu, selamanya aku belum
    pernah melihatnya. Dan seumur hidup ini aku selalu merindukan wajah itu.”

    “Ya, akulah ibumu ini”,[/] sang dewi mendekat membelai anaknya. Ibu yang dahulu adalah seorang bidadari yang dipersunting Prabu Sentanu.

    [i]“Pantaslah kamu tidak mengenal wajah ibumu ini, karena aku telah meninggalkan kamu sewaktu masih bayi”.
    sambung Sang Batari.

    ********

    Beginilah cerita singkatnya ngger anakku :
    “Pada suatu hari ayah Prabu Sentanu,
    ayahmu, yaitu Prabu Pratipa sedang bertapa. Saat sudah mencapai hari matangnya semadi, aku duduk dipangkuan sang Prabu Pratipta, nyata kalau aku terpesona oleh aura sang prabu yang bersinar kemilau dan juga ketampanannya.


    Dari kencantikan yang aku punya, sebenarnya Prabu Pratipa juga sangat terpesona denganku, namun tujuan utamanya bukanlah jodoh yang sang Prabu dikehendaki. Maka Prabu Pratipa berjanji, bila dia mempunyai anak lelaki kelak, maka ia akan menjodohkannya dengan diriku, disaksikanlah janji itu oleh alam semesta.

    Benar, takdir mempertemukan kembali aku dengan anak Prabu Pratipa, Raja Muda Sentanu, ketika Sang Prabu sedang cengkerama berburu.

    Demikianlah, aku dan ayahmu saling jatuh cinta, dan kembali ke Astina bersama sama. Sayang seribu kali sayang, ada satu
    permintaan ku yang dirasa kelewat berat ketika diutarakan kepada ayahmu. Setiap aku melahirkan, maka anak itu harus dihanyutkan di bengawan Gangga.


    Sekian lama ayahmu, Sentanu tidak dapat memutuskan persoalan yang maha berat baginya.
    Asmara akhirnya mengalahkan logika. Kecantikanku yang selalu belalu dihadapannya setiap waktu, memancing gairah kelelakian Prabu Sentanu hingga disanggupinya permintaan yang satu itu.


    Hari berganti, bulan berlalu dan tahun tahunpun susul menyusul menjelang. Lahir satu demi satu anak anakku. Belum sampai menyusu, bayi merah dihanyutkan di Bengawan Gangga. Hingga akhirnya lahir anakku yang ke sembilan.
    Anak yang lahir ini sangat mempesona Prabu Sentanu, dengan aura cahaya cemerlang, senyum cerah dan tingkah lucu meluluhkan cinta sang Sentanu terhadapku. Anak itu adalah kamu Dewabrata! Tambahan lagi kesadaran ayahmu terhadap rasa kemanusiaan, mengalahkan cinta berlandas birahi terhadap diriku. Pertengkaran sebab dari perbedaan pendapat berlangsung setelah itu dari hari kehari, hingga terucap kata
    kataku, bahwa aku harus meninggalkan Astina kembali ke alam kawidodaren”.


    Demikan Sang Batari Gangga mengakhiri cerita masa lalunya.

    Memang demikaian adanya. Prabu Sentanu saat ditinggal istrinya, sangat kesulitan mencarikan susuan untuk anaknya. Ratusan wanita tewas ketika mengharap dapat dipersunting Sang Prabu, sebagai ganti atas air susu yang dilahap putera kerajaan, Raden Dewabrata, atau Jahnawisuta alias Raden Ganggaya . Kelak Sang Sentanu dapat menemukan kembali
    pengganti ibu Dewabrata sekaligus istrinya, yaitu Dewi Durgandini, kakak Raden Durgandana yang ketika bertahta menggantikan ayahandanya bergelar Sang Baginda Matswapati.

    Durgandini sendiri mengalami cerita asmara rumit antara Palasara kakek moyang Pandawa, dan Sentanu. Itulah kenapa Bisma Jahnawisuta, Sang Putra Bengawan, tidak pernah bertemu ibunya hingga saat Baratayuda tiba.
    “Nah sekarang katakan, ada apa denganmu, kenapa kamu ada disini, anakku..?” sang Batari menyelidik atas peristiwa yang tak terduga ini.

    Lalu Dewabrata menceritakan dari awal hingga ia terjerumus kedalam Bengawan.

    “Pertolongan ibu sangat aku harapkan, agar aku tidak mendapat seribu malu atas tanggung jawab Negara yang telah dibebankan diatas pundak ini, ibu!”

    “Baiklah, sekarang kembalilah ke medan pertempuran, Aku bekali dengan senjata panah sakti bernama Cucuk Dandang, lepaskan kearah lawanmu”.
    Kasih ibu sekali ini memberikan tunjangan terhadap anak yang sedang dalam kesulitan. Gembira sang Bisma menerima pusaka itu. Niat untuk berlama lama melepas kangen dengan sang ibu diurungkan. Segera ia memohon pamit.

    ********

    Resi Seta kembali mengamuk di palagan
    setelah yang ditunggu tidak juga timbul. Tandangnya membuat giris siapapun yang ada didekatnya. Namun tidak sampai separuh hari, kembali ia dikagetkan dengan
    kemunculan Bisma.

    “Seta, jangan kaget, aku telah kembali. Waspadalah, apa yang kau lihat?” Bisma datang dengan senyum lebar. Menggenggam busur serta anak panah ditangan, kali ini ia yakin dapat mengatasi kroda sang Seta.

    “Hmm . . . , Bisma, apakah kamu baru berguru kembali? Atau kamu kembali datang hendak menyerahkan nyawa?” Seta menyahut dengan masih menyimpan percaya diri yang besar.

    Segera tanpa membuang waktu, Bisma merentang busur dengan terpasang anak panah Kyai Cucuk Dandang. Panah dengan bagian tajam berbentuk paruh burung gagak hitam, melesat dengan suara membahana dari busurnya, tembus
    dada hingga kejantung. Menggelegar tubuh sang resi terkena panah , jatuh kebumi seiring muncratnya darah dari dada sang satria.

    Sorak sorai para Kurawa membelah langit senja. Dursasana terbahak kegirangan. Durmagati berceloteh riang. Kartamarma dan adipati Sindureja Jayadrata menari bersama, Srutayuda, Sudirga, Sudira dan
    saudara lainnya memainkan senjatanya seakan perang telah berakhir dengan kemenangan didepan mata.

    Sementara itu, para Pendawa dan anak anaknya mendekati Resi Seta yang berjuang melawan maut. Dengan lembut Arjuna memangku Resi Seta dengan kasih. Perlahan Resi Seta membuka mata, “Cucuku Pendawa . . . . . sudah tuntas …
    Perjuanganku sudah berakhir, tetaplah berjuang… kebenaran ada pada pihakmu . . . . . “
    Kresna sangat marah dengan
    kematian Resi Seta, dihunusnya panah Cakrabaswara hendak ditujukan kepada Resi Bisma.

    Waspada sang Resi Bisma, didatanginya Kresna sambil mengingatkan “Duh Pukulun Sang Wisnu yang aku hormati, apakah paduka Sang Kesawa hendak
    mengubah jalannya sejarah yang sudah ditetapkan. Bukankan sumpah dewi Amba, yang akan menjemput titah paduka adalah prajurit wanita”


    Tersadar Kresna dengan perkataan itu, segera Kresna mundur dari peperangan.
    Begitu pula Werkudara, melihat junjungannya tewas Werkudara mengamuk hebat, dicabutnya pohon randu besar dan disapunya para prajurit lawan didepannya hingga terpental bergelimpangan. Jadilah mereka korban yang tak sempat menghindar. Yang masih sempat berkelit melarikan diri kocar kacir
    mencari selamat.

    Senja hari menyelamatkan barisan Kurawa hingga korban yang lebih besar terhindarkan.

    Catatan:
    Versi lain menyebutkan Seta tewas oleh panah Bargawastra, panah pusaka warisan guru Resi Bisma, Rama Parasu atau Rama Bargawa.
    Tidak ada pertemuan dengan Dewi Gangga sebelumnya ketika Bisma mengalahkan Seta.


    Kembali Matswapati kehilangan putranya. Bahkan sekarang ketiga tiganya telah sirna. Kesedihannya sangat mendalam, hilang semua putra yang diharapkan menjadi
    penggantinya kelak. Pupus sudah harapan akan kejayaan penerus keluarga Matswa. Tetapi dasarnya ia adalah raja besar yang menggenggam sabda brahmana raja. Tak ada kata sesal yang terucap.

    “Cucu-cucuku, jangan kamu semua merasa bersalah atas putusnya darah Matswa, aku masih punya satu harapan besar atas darah keturunanku. Lihatlah di Wirata, eyangmu Utari sudah mengandung
    jalan delapan bulan, anak dari Abimanyu, anakmu itu Arjuna !”
    Matswapati memberikan pijar sinar kepada Pandawa, agar rasa bersalah atas terlibatnya Wirata dalam perang.

    “Bukankah keturunanku dan keturunanmu nanti sudah dijangka,
    akan menjadi raja besar setelah keduanya, Abimanyu dan Utari, mendapat anugrah menyatunya Batara Cakraningrat dan Batari Maninten?” Relakan eyang-eyangmu
    Seta, Utara dan Wratsangka menjalani darma sehingga dapat meraih surga. Aku puas dengan labuh mereka, yang nyata gagah berani menjalani perannya sebagai prajurit utama, yang gugur sebagai kusuma negara".


    Malam itu Matswapati memberikan nasihat pembekalan kepada pemuka pihak Pandawa yang hadir dalam sidang di pesanggrahan Randuwatangan, setelah upacara pembakaran jenasah Seta selesai
    dilakukan.


    Terakhir diubah oleh djoonecok tanggal 2/12/2013, 00:42, total 19 kali diubah
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:37

    up


    Terakhir diubah oleh djoonecok tanggal 2/12/2013, 00:42, total 9 kali diubah
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:38

    update
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:38

    update
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:38

    update
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:38

    update
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 1/12/2013, 05:39

    update
    avatar
    enka25
    VIP
    VIP

    Jumlah posting : 60
    Join date : 22.11.13
    Lokasi : konoha

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by enka25 on 1/12/2013, 06:31

    setia menanti pakguru ditunggu updatenya

    avatar
    o-ghie
    mbah jurig
    mbah jurig

    Jumlah posting : 113
    Join date : 02.01.14
    Lokasi : gang dolly

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by o-ghie on 22/1/2014, 13:48

    wuih.....
    kisah perang barata yudha ya........
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 22/1/2014, 14:23

    o-ghie wrote:wuih.....
    kisah perang barata yudha ya........

    yups... msh panjang ceritanya dan aq lg mlas ngelanjutin.
    hihihi...
    avatar
    o-ghie
    mbah jurig
    mbah jurig

    Jumlah posting : 113
    Join date : 02.01.14
    Lokasi : gang dolly

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by o-ghie on 22/1/2014, 14:26

    Hehehe.....
    jadilah Forum PR tpat crrbung yg terputus
    avatar
    ersha
    mbah jurig
    mbah jurig

    Jumlah posting : 172
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : negeri kertas

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by ersha on 22/1/2014, 17:33

    lhaaaaa... Baru liat aku ad enihhh cerita...

    Ayooooooo.. Teruskeeeeeennnnn.... :(
    avatar
    djoonecok
    super moderator
    super moderator

    Jumlah posting : 160
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : swargaloka

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by djoonecok on 22/1/2014, 18:25

    ersha wrote:lhaaaaa... Baru liat aku ad enihhh cerita...

    Ayooooooo.. Teruskeeeeeennnnn.... :(

    preettt dr jaman baheula kok br tau.
    hihiii
    avatar
    ersha
    mbah jurig
    mbah jurig

    Jumlah posting : 172
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : negeri kertas

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by ersha on 24/1/2014, 10:27

    suerrrr djo, aku br liat .p

    Hihihiiiiii
    avatar
    Admin
    Admin
    Admin

    Jumlah posting : 98
    Join date : 21.11.13
    Lokasi : markas

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by Admin on 19/8/2014, 18:09

    password sama email fb ane lupa sos nangis

    Sponsored content

    Re: Perang Bharatayuda

    Post by Sponsored content


      Waktu sekarang 18/12/2018, 20:00